Weight of disappointment

To everything i put my heart into, everything will soon get me broken. No need to explain how dramatic I’m being right now. But I’m so nothing but wet out of tears. To gather people, to give the trust you have, to maintain the understanding, to grow a little hope there are seeds of faith.

Everything shall work eventually.

It’s so strong. Spreading through my vein that nothing can stop what im believing.

But life strikes the shit out of me.

I fail. For million times. And so, im broken. Do you really have to fail each time life trying to teach you a lesson? Because you are being too dumb? Even to realize that you are dumb.

 

Memberimu Kabar

without-eyesSudah hampir tiga tahun melakukan pengembaraan sendiri. Di sini. Di tanah Jawa. Apa kabar kalian yang juga sendiri atau menyendiri di tengah hiruk pikuk hidup sebagai budak korporasi? Tapi sebelumnya, ku ucapkan selamat bagi kalian yang tidak melakukan ini. Kau tau, bekerja tanpa tahu untuk apa kemana.

Sudah terlalu lama agaknya tidak membuat tulisan di blog ini. Like, who cares?

Kabarku baik – baik saja. Karir?? Sedang cemerlang malah. Tak heran kau akan sulit sekali menemukan ku jika tak membuat jadwal janji temu seminggu sebelumnya. Karena, bisa jadi aku sedang di dalam mobil dalam perjalanan ke daerah yang baru pertama kali ku jejakkan kaki atau sedang berbaring di hari libur sambil mengerjakan beberapa hal yang kesannya penting sekali. Ini tak perlu ku jelaskan sebagai ironi kan?

Dua tahun yang lalu, saat ku mati – matian agar tak menangis dikesendirianku, aku selalu berdoa ” Tuhan, ku katakan ini. Akan terus ku ulang, sampai kau lelah mendengar bahwa aku tak apa jika harus sendiri. Ya tentu. Karena ku pastikan bersama seseorang tidak akan membuatku lebih baik. Tapi beri aku pekerjaan yang membuatku sibuk tenggelam didalamnya. Megap olehnya ”

Dan Tuhan membuat karirku (bisa dibilang) meroket seketika. Semua terasa begitu berlebihan sampai – sampai yang ku lakukan bukannya berterimakasih tapi curiga. Curiga kalau – kalau ini akan menjadi boomerang. Kalau – kalau sesuatu akan ku sesali. Atas doaku sendiri? Ya begitulah lucunya manusia ini. Aku sangat inseyur bahkan kepada Tuhan. aku mendapatkan promosi setelah bekerja selama 3 bulan saja. Berlebihan bukan?

Saat ini, aku sedang menjadi koordinator program untuk salah satu perusahaan MFI terbesar di Indonesia. Tidak terlalu berlebihan kalau dikatakan aku sedang belajar mengelola program skala nasional. Sudah kedengaran bagus kah?

Hmmm, apalagi kira – kira? Hubungan sosialku? Oh. Soal itu. Ya, aku kewalahan dengan ini. Aku tak begitu bersosial dengan orang – orang. Di kantor, tak banyak yang mengenalku. Di lingkungan personal pun aku tak begitu berusaha saling bertukar kabar dengan orang – orang yang mungkin selama ini ada di lingkar terdekat. Jangan tanya kenapa. Aku bukan sombong. Tapi ya bisa jadi itu yang orang dapatkan. Aku tak akan terlalu berusaha menjelaskan ini. Sederhananya mungkin, aku jenuh dengan basa basi. Aku tak ingin berusaha membual dan membuang waktu orang lain.

Karena, memang, hidupku tidak menarik. Tidak ada yang bisa disampaikan. Hahaha. Ya ampun. Aku tahu, aku berubah. Menjadi sangat skeptikal. Tak perlu khawatir. Aku masih bisa tertawa. Terutama, menertawakan diri sendiri. Itu masih menjadi hobi yang paling tak bisa ku lepaskan. Karena aku adalah kekasih untuk diriku sendiri.

Hm. Bicara soal kekasih, sepertinya sudah cukup jelas ku katakan bahwa ku adalah kekasih untuk diriku sendiri. Dilain posting akan ku bahas tentang petualanganku soal ini. Cukup menarik. Mungkin.Hahahahaha.

PLAYLIST

Perempuan kecil. Tak lebih besar dari nyalinya yang kian hari kian digerus oleh ketakutan – ketakutan imajinasinya. Lelah dan sedikit hangat setelah pulang berkendara sendiri di tengah hujan deras berhias kilat di kota yang masih asing baginya. Sesekali suara dari dalam dirinya bergumam “coba ya, rasanya disambar petir gimana | Kalo tiba – tiba disambar petir sedang seperti ini, apa jadinya?” Lalu perempuan itu mengetuk-ngetuk helmnya seakan – akan sedang mengetuk kepalanya dan mengumpat dirinya sendiri. WTF. Sampai hari ini dia masih tidak mengerti siapa orang dalam dirinya yang selalu mendoakan hal-hal buruk terjadi pada dirinya sendiri.

Jadi, dia sampai di kontrakannya yang sumpek dan berbau aneh. Selesai makan dan mengirim email yang dibutuhkan..ia berbaring. Berpikir. Sebaiknya ngapain?

Beberapa orang punya cerita cintanya dan dengan segala romantisme yang telah dipelajari dalam hidupnya, dicurahkan ke dalam mixtape dan seterusnya diserahkan kepada rekan kisah cintanya. Yang seumur hidup mereka, apapun di manapun kehidupan berlangsung mixtape itu tak ayal akan menjadi soundtrack dari sepenggal kisah hidupnya. Menjadi ekslusif. Meski mungkin bagi orang lain lagu itu terdengar biasa saja.

Sedang ngemall cantik, kakak kikik lalu sebuah lagu diputar dari speaker gedung. Menggema sedemikian rupa, seketika dunia berputar dengan mode : slow motion. Macam ragam ekspresi muncul sebagai akibat dari hati yang kesulitan mencerna apa sedang di waktu  yang sama atau sedang terbang ke masa yang terlalu banyak. Sesekali tersenyum, tertawa getir atau kalau cukup waras ya berjuang keras untuk tidak mendramatisir keadaan.

“Yeah, i know right..”
Musik itu menyebalkan. Begitu pikir perempuan ini, yang juga dengan sengaja menjauhkan diri dari musik. Terutama yang sedih. Tahu diri tidak akan bisa biasa saja. Gampang baper.

Malam ini perempuan itu membuat playlist yang isi lagunya mengajak ke satu masa yang sepertinya dengan sengaja ia bekukan. Malam ini, PMS mendorongnya untuk tiduran layaknya pasien di ruang seorang psikiater. Tidak, dia belum pernah ke salah satunya. Dia hanya menduga – duga rasanya akan begitu. Diam dan menghadap dinding. Menerawang mungkin. Sekali waktu bicara sendiri. Tenang. Tapi emosional. Tidak, tidak ada yang mendengarkan biarpun dinding kontrakan ini setipis tirai. Hal ini bukan kebiasaannya. Kebiasaaanya adalah menyusun list kegiatan yang ingin dia lakukan besok dan list barang yang perlu dia miliki. Semua itu semata – mata karena dia mudah lupa. Tapi tentu bukan menyusun list lagu.

Mungkin dia ingin tau saja apa rasanya tenggelam dalam masa lalu yg dibawa oleh playlist.. Seolah sedang menciptakan mesin waktu, dia fokus menyusun dan begitu mesin siap dinyalakan, dia mengambil posisi terbaiknya. Playlist itu disusun berdasarkan masa – masa yang ingin dia kenang terlebih dahulu. Beberapa lagu diulang beberapa kali. Seketika adegan demi adegan muncul seoalah terproyeksi ke arah matanya memandang. Ke langit – langit kamarnya yang berwarna krem. Lalu masa tak lagi menjadi penting.

Muslim Yang Islamophobic

Aku muslim sejak lahir. Aku muslim warisan orangtua. Muslim yang ketika  baligh tidak pernah ditanya apa aku benar – benar ingin dan mempercayai Islam sebagai keyakinan beragamaku.

Sedari kecil aku selalu punya ketakutan soal apa – apa yang telah dilabeli haram dan neraka. Oleh orang – orang sekitarku. Mereka mungkin hanya ingin melindungiku. Tapi ketika sudah sebesar ini, tentu banyak yang berubah. Satu ketika, kakakku pernah menelfon, menanyakan kabarku, karena kami yang terpisah jauh antara Sumatera dan Jawa. Kakakku ini sangat perhatian. Dari kecil menjadi salah satu role modelku. Sekarang dia adalah seorang ibu muslim yang sangat taat beragama. Kemudian dia bertanya pertanyaan yang dia tidak pernah lelah tanyakan “kapan mulai berhijab? Tau gak, kalo jilbab itu wajib? mau masuk neraka?”

Lalu minggu kemarin, aku diundang interview untuk satu koperasi syariah yang bekerja sama dengan NGO. Mereka sedang mencari orang yang bisa bekerja untuk program air bersih. Sebelum akhirnya mengundangku interview, mereka mengirimkan pertanyaan screening. Yah pertanyaan – pertanyaan yang bertujuan menggali pemahamanku terhadap program. Tapi aku terkejut bukan main ketika mendapatkan permintaan untuk menulis tulisan arab dari basmallah, hamdallah dan syahadat. Aku tidak keberatan tentu saja. Tapi aku benar – benar tidak menyangka pertanyaan begitu akan keluar ditengah bahasan tentang program mikro kredit air bersih. Saking terkejutnya, aku baru mulai menjawab pertanyaan agamis tersebut keesokan harinya. Maksudku, korelasinya apa? Pun aku tetap mengirimkan jawabanku meski aku sudah kehilangan semangat. Aku mengambil kesimpulan bahwa koperasi syariah tersebut sedang screening pekerja tidak hanya dari segi wawasan dan kemampuan tapi juga mengukur keislamannya. Ya masa, muslim nggak bisa sih nulis standar macam bismillah dan hamdallah...

Ketika mendapat panggilan interview, aku lebih terkejut lagi. Harusnya mereka bisa melihat CV-ku sebelumnya. Jika konteksnya adalah pengalaman, mungkin aku masih bisa bersaing dengan kandidat lain, tapi mestinya mereka sadar bahwa kalau konteksnya adalah kadar ke-islam-anku, mereka akan lihat di cv aku tidak berjilbab. Aku sudah tidak memenuhi kriteria itu. Pun, aku tetap juga menyambut baik panggilan itu. Mungkin koperasi ini tidak ngeh, atau mungkin mereka tidak se-judgemental yang aku kira. Dan aku tak seharusnya berlaku judgemental juga pikirku.

Singkat cerita, interview berjalan sangat baik. Aku sangat awas dengan pertanyaan soal jilbab ini. Aku yakin mereka akan bertanya. Biarpun jauh didasar hatiku berharap pertanyaan itu tidak ditanyakan. Karena semua pertanyaan interview lainnya akan sia – sia belaka. Benar saja, diakhir sesi mereka bertanya “maaf sebelumnya, tapi ini adalah pertanyaan yang berhubungan dengan prinsip koperasi kita, jika kamu bergabung dengan kita, apa kamu bersedia memakai jilbab?”

Tidak ada yang salah dengan pertanyaan itu. Pertanyaan sopan dan yah, mereka adalah koperasi syariah, berharap apa aku dari seluruh interview ini sih? Aku terdiam cukup lama sambil tersenyum getir. Aku sibuk dengan diriku sendiri dan tiba – tiba menjadi emosional. Jawabannya tentu mudah, yang tak mudah adalah bagaimana menyampaikannya.
“Di keluarga saya, hanya saya yang tidak pakai jilbab. Alasannya, saya belum siap. Saya tau anda akan bilang, muslim diharuskan mengikuti syariat, dan perempuan itu sudah syariatnya berjilbab. Sekarang, anda berhadapan dengan saya yang sedang tidak pakai jilbab karena belum siap, kalau saya bilang saya bersedia, berarti saya sedang menghina agama saya. Demi salary dan pekerjaan saya siap pakai jilbab? Maka jawaban saya, tidak. Saya tidak bersedia. Saya tidak berencana berjilbab dengan cara seperti ini”

Semua orang terdiam beberapa saat, sedang aku mulai berkaca – kaca. Banyak hal yang berkecamuk di kepalaku. Tak lama, interview selesai dan aku pulang dengan dada yang bergemuruh. Marah. Kesal. Yang paling menyakitkan adalah fakta bahwa orang – oang relijius ini hanya bisa berpikir tentang identitas, padahal keislaman tak bisa diukur serta merta persoalan identitas saja. Dan siapa mereka berusaha mengukur keislamanku? Apa bedanya mereka dengan orang – orang yang meminta perempuan berhijab melepaskan hijabnya karena tuntutan pekerjaan? Oh, snap. Aku kemudian jadi tahu rasanya. Ya ampun. Seketika aku jadi semakin sedih. Aku menangis sepanjang perjalanan pulang dan tak bisa fokus pada pekerjaanku yang menanti.

Aku pikir itu cukup menjadi pengalaman sampai disitu saja. Tapi ternyata tidak, koperasi ini ternyata menyimpan kesan tersendiri kepadaku. Mereka penasaran katanya. Lalu mereka meminta bertemu lagi. Kali ini dengan mengabaykan formalitas mengundangku bermain ke koperasi mereka. Mereka penasaran dengan jawabanku yang frontal katanya dan juga mungkin bisa menemukan titik temu sehingga dapat bekerjasama. Namanya juga ikhtiar, begitu alasannya. Aku bingung, tapi lagi – lagi aku menyanggupi. Buatku, mungkin itu itikad baik mereka berusaha memahami perspektif berbeda. Mungkin mereka tidak pernah mendapatkan reaksi yang ekstrem seperti yang aku lakukan. Mereka mungkin tidak pernah menyangka bahwa niatan baik mereka sebagai koperasi yang membawa nilai – nilai agama mendapat kesan yang pedas justru dari orang yang sama – sama islam. Bisajadi ada yang salah padaku, dan mungkin berusaha memperbaikinya (?)

Di pertemuan itu, kujelaskan memang ada yang melatarbelakangi jawabanku yang sedemikian agresifnya. Aku menjelaskan bahwa selama perjalananku berpindah – pindah, aku punya keresahan tersendiri bagaimana banyak muslim belakangan ini berusaha mempresentasikan diri sebagai kelompok arogan dengan semena – mena mengkafir -kafirkan orang, mengharam – haramkan banyak hal dan cenderung pro terhadap kekerasan. Semata – mata karena merasa perinsip keislamannya terganggu. Aku mungkin  seperti muslim yang mengidap islamophobic. Aku merasa aneh sendiri. Sejauh yang aku tau tentang Behaviour Change Communication, pendekatan seperti itu tidak akan membawa kita -islam- kemana-mana selain kepada kemunduran. Mencintai islam hanya sebagai identitas adalah sedangkal-dangkalnya cara beragama. Tapi semua yang menjadi keresahanku selama ini hanya bisa kusampaikan kepada diriku sendiri. Karena aku merasa tidak cukup capable untuk menjelaskan itu kepada orang – orang yang akan adu argumen dengan penggalan – penggalan ayat. Dan keresahan itu semakin kuat, ketika pertanyaan tentang jilbab muncul.

Mereka menjadi mengerti. Dan kami sampai pada kesimpulan, tidak ada tawar menawar lagi. bahwa koperasi syariah tidak mungkin mempekerjakan orang tanpa jilbab dan aku tak mungkin berjilbab hanya karena takut jadi pengangguran. Tapi diskusi kami berakhir baik. Berakhir damai. Buatku tidak ada yang sia -sia. Tidak mendapatkan pekerjaan tidak mengapa, paling tidak, ada sekelompok orang yang berusaha mensyiarkan agama lewat usaha koperasi yang bersedia duduk bareng dan mendengarkanku. Islam masih ada harapan, pikirku.

 

 

 

 

 

 

The very one dark story

Suatu hari, karena teman – teman SMP sedang merasa penasaran dengan permainan Jailangkung, maka bermainlah mereka meski aku sudah menolak ikut dan berusaha meyakinkan mereka bahwa permainan itu sama sekali tidak menarik. Aku dari brojol sudah sangat terkenal sebagai anak yang cengeng dan penakut. Makanya aku berusaha keras untuk tidak terlibat di dalam kekonyolan mereka. Tapi akhirnya aku juga tak sudi diolok – olok sebagai anak penakut, akhirnya aku berada diantara teman – temanku yang kemudian melafalkan semacam mantra pemanggil dengan uang logam. Aku tak begitu ingat ritualnya. Lebih tepatnya, masa itu mengalami auto-delete karena apa yang terjadi setelah itu adalah, aku menjadi tidak terkontrol dan diburu oleh ketakutan yang tidak bisa aku jelaskan.

Sepulangnya dari rumah temanku, aku mulai merasakan ada yang tak beres dengan pundakku. Aku merasakan pundakku bertambah berat, begidik secara permanen dan seakan – akan aku kehilangan kontrol jika aku sedikit saja tidak fokus. Beberapa hari aku berusaha mengatasinya sendiri. Tak berhasil. Akhirnya aku bilang ke mama. Dan segala upaya dilakukan. Mulai dari disiram air dizikir. Diminta membasuh diriku dengan wudhu sampai ke level..aku di sembur dengan air, di libas dengan dedaunan, di jambak. Tak berhasil. Akhirnya aku hidup dalam teror itu selama beberapa tahun. Bukan hal yang mudah. Seriusan. Aku bahkan tidak bisa bilang keadaanku kepada teman – temanku. Tapi semua orang tau aku bisa berkeliling gusar jika aku kambuh. Di kelas aku akan duduk tidak tenang dan tidak pernah bisa konsentrasi. Hasilnya, aku juga mengganggu teman- temanku. Yang penting pikiranku bisa teralih dari perasaan maupun pikiran kosong maupun pikiran yang mistis. Aku merasa sangat tersugesti saat itu. Ya tentu saja sekarang aku bisa bilang semua itu hanya karena aku mensugesti diriku.

Aku mengalami gangguan itu selama 10 tahun lamanya sejak aku SMP. Aku semacam mengidap trauma mistis atau ntahlah. Mungkin sebenarnya aku bisa sembuh jika aku segera berkonsultasi dengan psikiater. Mungkin. Tapi sebagai anak yang berkembang di daerah yg pengaruh mitos lebih kuat, akhirnya penanganan untukku lebih yah kau tau lah “tradisional”…

Aku ingat sekolah SMP dan SMA ku adalah sekolah tua sejak jaman Belanda. Bangunannya saja waktu aku sekolah masih bertahan lengkap dengan sejarahnya sebagai sekolah kompeni. Jadi ya, cukup alasan utk ku selalu berada di scene-scene horor. Aku selalu berusaha menahan pipis agar tidak pipis di sekolah. Karena, disekolah tua, toilet adalah tempat yg paling banyak mitosnya dan aku selalu tau aku tak pernah punya keberanian kesana. Perpustakaan juga. Intinya, sepanjang sekolah, aku selalu berusaha aktif, memaksimalkan waktu untuk berada ditengah keramaian dan berisik. Dan sangat mencintai olah raga. Iya aku suka olah raga tapi alasan lain adalah karena setiap olah raga kami akan pergi ke lapangan tengah kota atau lapangan pasir (kami biasa menyebutnya). Ditempat terbuka, banyak angin dan ditengah kota, aku selalu merasa itu adalah tempat ternyaman atau tempatku tak perlu memikirkan apapun termasuk pertahanan untuk tetap waras.

Pernah satu ketika, sekolah SMA ku sedang mengalami musim ‘kemasukan’ tiba2nya saja banyak anak perempuan menjerit tak karuan, sekolah panik, aku? Aku gemetar dan semakin merasa berat dgn diriku sendiri. Mati-matian berpikir bahwa sesuatu sedang berusaha mengambil kontrol alam sadarku. Sekolah panik, teman – temanku panik, aku mengambil tas dan dengan segala alasan berusaha melewati guru piket yang selalu berjaga dipintu keluar sekolah untuk pulang.

Aku pulang, sampai dirumah aku cuma menangis dan bilang ke mama aku tak baik2 saja. Tapi aku juga tak bisa menjelaskan aku kenapa. Aku rebahan, mama mencoba memegang telapak kakiku dan katanya kakiku dingin sekali. Dia biasanya akan mengomel karena aku bisa saja mencari alasan utk melewatkan sekolah. Tapi hari itu, dia baik sekali, menyuruhku istirahat, dan tidur siang kalau bisa. Katanya aku akan baik2 saja nanti.

Dengan masalah yang sama jg aku keluar sekolah, dan memilih numpang buang air besar dirumah temanku daripada di kamar mandi sekolah. Ntah teman2ku sadar atau tidak, ketika aku mulai merasa ‘terganggu’ kakiku akan bergerak2 sebelah, cara ini aku lakukan biar aku bisa teralihkan.

Aku takut gelap. Aku takut sendirian. Aku takut dengan imajinasiku. Tapi mungkin tak banyak yang bisa melihat itu. Karena aku sangat aktif. Sibuk. Dan heboh. Buat mereka mungkin karena memang aku seperti itu. Tapi mungkin juga bukan karena aku ingin begitu. I tried to create myself. To cover the ugliness that happened inside me. Something that if anyone would’ve noticed, I couldnt explain.

Maybe I dont really exaggerate it if I say, Death has been haunting me since then. It never really left me. It just transformed to different thing. Different fear. Something that always has me frighten. Another form of depression.

Then again, I’m the expert of manipulating myself. From the very young age.

MENABUNG DENGAN IKHLAS

Belakangan banyak blog post tentang trik – trik menabung harian dengan menggunakan sejumlah kecil uang. Tujuannya pun macam-macam. Mulai dari untuk traveling, investasi kecil2an sampai membeli barang tertentu.

Tapi ada beberapa masalah. Meski suka menabung, aku juga anak kos yang terbatas pemasukannya, aku sewaktu – waktu butuh asupan gizi pengen makan enak. Intinya aku punya kecendrungan tidak disiplin dan mudah bosan. Dan karena ini berhubungan dengan tabungan harian… jadi begitulah…

Aku mencoba mengikuti trik2 yang sudah ada. Tapi tidak berhasil. Misalnya tips menabung sesuai tanggal setiap bulannya. Kaya tanggal 1 berarti kau menabung uang seribu, tanggal 2 jadi 2 ribu. Aku merasa itu tidak cocok karena berarti semakin akhir bulan semakin aku merasa krisis membesar.

Atau tips menabung dgn uang Rp. 2000 yg dikalikan dengan tanggal. Ini apa-apaan lagi. Aku disuruh menghitung. Tanggal 10 x Rp. 2000 = BERAPA?? BERAPAA? MEMANGNYA AKU SEPINTAR ITU. Tidak ah, berat dan rumit.

Akhir kata, aku mencoba membuat metode sesuai dengan kadar keikhlasanku untuk menabung. Tentu saja dengan komitmen sepenuh jiwa. Tapi kau juga akan tau, metode ini memang tidak seserius yang lainnya.

Aku membuat penggalan kertas yg bertuliskan nominal uang yg harus ku tabung setiap harinya (nominalnya pun random)..dan ku gulung seperti gulungan kertas arisan. Bedanya isinya bukan nama ataupun hadiah tapi kewajibanku menabung dgn kisaran uangnya dari Rp. 5000 s/d Rp. 50.000. dengan harapan dapat cepat kaya juga sih

image Ini kemudian digunting kecil – kecil

Beberapa kertas tidak berisi jumlah uang melainkan kata – kata mutiara. Dan justru ini bagian menarik dan membuatku selalu deg-degan setiap pagi berganti. Huhuhuhu padahal yg nulis diri sendiri

image

Dengan metode ini. Nominal yg perlu ditabung akan acak tergantung pada kertas apa yg kudapat setiap harinya. Jadi gitu, sewaktu – waktu aku bisa terlepas dari kewajiban menabung, tapi juga bisa miskin mendadak…
image
Ini bentuk awalnya..yang kukira bisa menampung sampai bulan ke 6

Menarik? Tidak menarik?
Aku memasukkan uang-uang tersebut ke tabung bekas kentang goreng. Tabungnya aku pilox putih dan setiap bulannya uang yang terpakai akan aku tulis dibelikan atau dipakai buat apa. Tentu saja supaya aku bisa menghargai simpanan tersebut. Itu tuh kaya nulis jasa-jasa pahlawan di nisannya… mungkin…
image
Tube berbeda dgn merk yg sama. Aku yakin kau bisa menebaknya. Sudah diam saja.

So far sudah berjalan 2 bulan dan dia sangat membantu. Aku sangat tertolong.

TESTIMONI DARI DIRI SENDIRI :

Tadinya aku pikir aku tidak akan menggunakannya sampai jangka waktu yg panjang, tapi… aku berubah pikiran karena mendadak aku punya kebutuhan. Sungguh, sangat membantu.
Januari –> aku harus pindah, uangnya terpakai utk beli koper dan bayar mobilisasi barang2
Februari –> Tempat baru membuat aku punya beberapa kebutuhan barang seperti rak piring, listrik, pel dll.

Jadi, begitulah, kalo dirasa metodenya menarik, silah dicoba. Kalo gak, yaudah sih, nikmati saja eskrimmu.

Throw Back Time (They Said)

Aku punya kebiasaan setiap tahun berganti, aku berbalik ke belakang dan mengenang. Mungkin mengecek apa semuanya sudah sesuai sebagaimana yg kuharapkan.

Lalu berikutnya aku mulai menimbang-nimbang apa yg akan aku lakukan di tahun baru ini. Tentu saja tidak banyak yg dapat ku persiapkan. Kau tau, sebagian besar yg kulakukan hanya berandai-andai. Seperti mereka para medioker lainnya. Berkespektasi dan kecewa sendiri.pffft.

Tapi kali ini, ketika aku mulai merenung (anggaplah demikian) aku kaget bahwa yang kulakukan sepanjang tahun 2015 hanyalah bekerja (dan mudik sih). Aku merasa aku telah melakukan langkah besar sepanjang 2015, tapi begitu mengingat ke belakang, aku sadar aku seperti kuda yg berkacamata. Kencang dan lurus. Mungkin aku hanya menyibukkan diri di tengah kesendirianku yg kadang memang terasa mematikan kalau tak kau sebut menenangkan.

Aku masih belum membaca sekitar 10 buku, aku masih belum bisa memasak dengan benar, tanaman-tanamanku mati dan yang tadinya kupikir aku bisa menggambar dinding kamarku pun tak kunjung terlaksana. Aku terlalu sibuk. Ngeblog pun luput. Meski semua agenda (tak penting) itu terpenuhi dan meski aku tidak bertraveling ria, kupikir, aku baik – baik saja. Tak banyak yang menarik, tapi aku baik – baik saja.

Ada satu hal yg perlu kutegaskan. Bahwa, aku sudah cukup stabil. Emosiku yg kemarin-kemarin pasang surut selayaknya nasib rupiah terhadap dollar, skrg terkendali. Aku tidak lagi merasa kosong yg ekstrim, sedih yg ekstrim atau ketakutan ekstrim. Tentu saja hal ini bisa kubuktikan dgn fakta kalau aku sangat fokus bekerja. Bukan fokus mengeluh di blog.

Ku pikir aku punya masalah dgn kesukaan terhadap lemon yg ekstrim sekarang.

Aku menyambut 2016 dengan cara yg ekstrim namun membanggakan. Dengan lemon tentu saja.

image

image

Oh yeah guys, you have to trust me. Aku tidak menggunakan bahan pembersih apapun. Hanya potongan lemon. LIHATLAH HASIL KARYAKU!!

Baiklah, aku tau kalian sangat ingin tau tipsnya. Sederhana :
1. Beli lemon
2. Potong sesuai selera
3. Gosok pada permukaan benda yg ingin dibersihkan dari noda membandel, diamkan beberapa menit
4. Bersihkan dengan spoon basah.
5. You’re done.

Wait a sec…where were we?
Oh right, who cares.
Selamat bercengkrama dengan lemon guys!

Telfon dengan mama

Malam ini nyokap cerita, sekarang dia lagi tinggal sendiri. Tiba – tiba aku jadi khawatir, sedih dan ngerasa bersalah. Tetangganya yang kanan lagi berkunjung ke Pekan baru, yang kiri sudah tidak ditempati lagi, yang depan juga sedang ke Bandung, yg di timur laut sudah jadi kantor partai. Yang di barat laut emang cuma tempat cuci mobil. Yang di selatan, yah, cuma punggungnya rumah orang doang.

Kita ngobrol banyak. Tapi jadi tidak terlalu banyak karena orang – orang juga berkurang. Td mama juga cerita beberapa temennya meninggal. Ada juga yang sedang sakit. Tapi alhamdulillah dia tidak mengeluh.

Dengan tinggal sendiri, dengan tetangga yg sedang entah dimana dan fakta bahwa rumah kami sudah 3x kemasukan maling, mama tidak terdengar seperti ingin membuatku khawatir. Tapi, iya, aku khawatir. Banget.

Aku terbang jauh – jauh, salah satu motivasinya ya demi beliau juga. Tapi kalo akhirnya justru ngebuat nyokap dalam keadaan yang tidak menyenangkan begitu, rasanya sedih juga. Bukan. Sedih banget.

Mama baru tadi ngomong kalo lingkungan rumah tidak begitu kondusif. Selama ini, beliau pasti cerita yg lucu – lucu saja. Atau yg bikin beliau murka. Baru ini dia nyebutin hal – hal yg tidak begitu menggembirakan.

Dengan keadaan seperti itu, gue cuma menghibur beliau dengan bilang kalo pesanan pembunuh tikus dan serangganya sudah aku kirim. Lantas, obrolan yg muram berubah jadi cerita tentang bagaimana sepak terjangnya selama ini membunuh komplotan teroris tersebut yg sudah meneror rumah selama ini.

Dulu biasanya, kami akan berpencar menjadi beberapa bagian, mama yg berusaha ngusir tikus, adik lelaki yg siap sedia menangkap dan aku yg cuma pura – pura jaga pintu kamar biar tikusnya gak lari ke kamar. Pada akhirnya, setiap tikusnya lari ke arahku, aku akan lari seperti benar- benar sedang dikejar tikus, dan lompat ke atas sofa. Rumah akan penuh histeria. Tertawa, lalu tidur. Dan tikus tetap makmur damai hidup bersanding dengan kucing yg ngaku-ngaku peliaraan dirumah tapi tidak berguna.

Throw up

Aku lelah sendiri dengan berpura – pura menjalani “kehidupan normal” seperti punya pacar, pekerjaan yang menyita waktu, menjadi pendaki status sosial dengan mengajak orang – orang asing kopi darat, tidak ingin ketinggalan trend dan sebagainya. Selama di Jakarta, aku benar – benar sibuk membangun citra “ I’m starting a new life “. Dan karena bukan itu yang selama ini aku butuhkan, akhirnya aku nyerah. Sedang membuktikan apa ke siapa?

Setelah segala cara ditempuh dari tahun ke tahun untuk bisa berdamai dengan kenyataan, dengan diri sendiri juga dengan orang selalu ingin kusalahkan, dengan mudahnya kuambil keputusan ini.

Aku benar – benar meninggalkan comfort zone ku. Meninggalkan pekerjaan yang cukup tetap dan menjanjikan, orang – orang yang siap membantu kalau – kalau aku jatuh dan meninggalkan peranku sebagai “orang baru yang ingin diakui” (entah oleh siapa). Disinilah akhirnya aku sedang menjalani bulan ke 3 di Telaga Bestari ini. Aku sudah mulai memasuki fase kebingungan.

Bulan pertama terasa lebih mudah dan menyenangkan. Jauh dari Jakarta dan keramaian membuat aku merasa sedang berlibur. BUlan kedua gejala gamang mulai mengintai. Tapi di bulan ketiga tahapan terasa berat. Pekerjaan tidak begitu lancar, sakit demi sakit kecil menjadi teror. Apa karena aku depresi lantas aku sakit – sakitan atau sakit – sakitan yang membuatku depresi? Aku sampai hari ini masih sering mengingat siapa saja orang yang telah meninggalkanku. Fase terberatnya adalah, mereka datang ke mimpiku bergantian. Aku benar – benar sedang meracuni diriku sendiri disini. Kehilangan bukan hal yang mudah. Dering telfon dadakan ditengah malam bisa membuatku panik seakan – akan hanya ada kabar buruk yg akan muncul. Aku selalu menghubungi orang – orang dikampung. Memastikan tidak seorangpun dari mereka kenapa -kenapa. Minggu lalu papa dan nenek sakit. Aku panik dan tak ada yg bisa kulakukan selain menelfon dan menghibur mereka.

Kepala ini tak pernah membuat hidup jadi lebih mudah. Terlalu banyak beban yang ingin kupikul seolah – olah aku punggung semua orang. Mungkin karena memikirkan orang lain terasa lebih ringan daripada memikirkan diri sendiri. Memikirkan apa yang tak bisa kupunya dan gagal kupertahankan. Aku merasa orang lain tak perlu merasa demikian. Atau mungkin aku hanya tak terlalu menyukai diriku. LOL.

I know I’m not anyone superhero.

Dan (oh aku lelah mengeluh tentang ini ) menjadi orang yang terlalu sensitif bukan hal mudah. Menjadi orang yang terlalu sensitif dan terdampar sendiri adalah tantangan terberat tahun ini yang sedang kucoba hadapi. Dan karena ini keputusan yg kubuat, aku benar -benar menaruh harapan, agar pilihanku untuk keluar dari zona nyaman ini memberi hasil yang lebih baik untukku. Meskipun kadang aku berbisik kediriku sendiri “dont push yourself, you got nothing to lose”.

Aku sedang berusaha mengalahkan teror – teror energi negatif dengan mencoba memiliki hobi. Aku menikmati film dan series, aku membeli beberapa buku sejarah (aku merasa lebih cocok dengan buku – buku begini dari pada novel yang cuma akan membuatku bergulat dengan emosi lagi, jadi ini bukan tentang aku sok berat ato sok pintar), aku bercocok tanam dan secepatnya setelah memiliki kompor mgkn aku akan belajar memberi asupan makanan sehat. Hitung – hitung buat nambah keahlian di CV. Aku berolah raga, kadang. Aku punya banyak waktu luang dan aku harap aku benar – benar bisa melewati fase ini dengan gol sederhana, yakni menjadi orang yang lebih menghargai diri sendiri, lebih berani, tidak cengeng, punya cukup keahlian baru dan lebih bijaksana. Dan yang terpenting, tidak menggantungkan apapun kepada siapapun.

Tapi bulan ke tiga ini adalah ujian pertama, masih awal untuk sampai ke harapan – harapan itu. Dan aku harus bisa menang. Ya iyalah, kalo enggak, piye?

Kadang berharap memiliki orang untuk berbagi cerita, berbagi sekedar perhatian kecil atau yah begitulah. Berbagi obrolan tentang betapa menariknya membangun jamban (really? really nov?). Tapi aku tau aku belum siap. Jadi, biar saja seperti ini. Sendiri. Aku tau aku tak bisa memaksakan diriku atau memaksa orang lain menyukaiku. Biarpun kadang aku tak bisa mengontrol keinginan itu *installl aplikasi dating* * sapa semua yang cakep – cakep*. Aku hanya perlu lebih bersabar menghadapi hatiku yang lembek ini. Dari hati terkutuk yang suka membisikkan doa -doa meminta drama.

What I Think When I Read Some Quotes

Pagi – pagi streaming radio dan buka pinterest. Mood ter-setting untuk ngebolg. Setiap buka pinterest ada banyak kutipan yang muncul. Kadang terasa seperti dibantu, kadang seperti lagi diceramahin, tapi yang paling sering setiap ngebaca kutipan adalah seakan itu tulisan cuma lagi mancing – mancing buat nyinyir. Nah, beberapa kutipan hari ini yang aku nyinyirin dari pinterest adalah…..

kutipan ini minta kita lebih menghargai luka atau hal yang sudah ngebuat kita merasa kalah dalam hidup. Yang salah dari kutipan ini adalah aku tidak menyukainya.

Ini kalimat yang menjelaskan roda kehidupan orang – orang berhati sensitif. Katanya kita akan lebih menderita, tapi kita lebih mencinta dan lebih banyak bermimpi.  Prase pertama harusnya menjadi prase terakhir. Maka hasilnya akan :

Karena kita lebih mencintai dan lebih banyak bermimpi MAKANYA kita LEBIH MENDERITA.

But they dont always wanna be crazy with you. Then what?

Sometimes ma’am, sometimes.

That confirmed. What’s really important about beautiful? really.

Kaya potong kuku yang dicariin kemana – mana eh, besoknya ada di meja dengan pasrahnya

A very powerful thing to either kills you or help you.

be loveable… *kentutin*

Problem is, the door maybe not guide you to the right path. Funny.